h1

SABAR DAN LEMAH LEMBUT TERHADAP ANAK-ANAK

Maret 15, 2009

Sabar dan lembah lembut terhadap anak-anak “pengurus islamic center tidak menggubrikahmad dan tetap berbicara dengan tamunya. Ia tidak marah dan memaklumi bahwa yang mengganggunya adalah anak-anak” Saya belajar tentang kesabaran pengurus kantor islamic center yang tidak marah kepada anak kecil. Ia terus mendiamkannya dan terus berbicara kepada tamunya.hendaklah kita meneladani Rosulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam segala hal termasuk kesabaran dan sifat santun belia u.sebagai mana terdapat pada Shahih Bukhari ketika Rosulullah shallallahu’Alaih wa Sallam sedang berbicara di hadapan suatu kaum lalu datanglah seorang Arab badui dan bertanya,”Kapan terjadinya kiamat?”Rosulullah Shallahu’Alaihi wa Sallam tetap meneruskan pembicaraanya. Sebagian sebagian orang mengatakan bahwa beliau mendengar pertanyaan orang tersebut tapi tidak suka dengan ucapanya.sebagian lagi mengatakan,beliau tidak mendengar orang tersebut bertanya. Sampai beliau selesai dengan pembicaraanya,setelah itu bertanya,”Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat?”Orang itu menjawab”saya, wahai Rosulullah.”…dan seterusnya. Di antara bentuk kasih sayang dan kelembutan terhadap anak-anak adalah mengusap kepalanya.Ibnu Abbas radhiallahu ‘Anhu-umur Ibnu Abbas ketika Rosulullah Shallahu’Alaihi wa Sallam wafat baru 13 tahun- berkata bahwa Rosulullah Shallahu’Alaihi wa Sallam pernah mengusap kepalanya sembari mendoakannya. Anak kecil,terkadang, senang bersenda gurau dan berbuat usil. Jika kita membentaknya,maka hal itu dapat melukai perasaan dan mengganggu kejiwaanya.sehingga ia lebih senang menyendiri dan menghindar untuk bergaul dengan orang yang lebih dewasa. Hadapilah perbuatan iseng mereka dengan senyum dan kekaguman.Arahkan kepada mereka agar tidak berbuat kurang ajar dengan cara lembut sehingga nereka akan senang dan termotivasi untuk bergaul dengan orang yang lebih tua. Bila kita berjumpa dengan anak-anak sedang bermain di jalan,apa yang akan kita lakukan?Diantara kita ada yang menegur mereka, “main saja!ayo pulang!”,atau teguran lain yang menunjukan ketidaksukaan kita kepada mereka. Ada pula yang tidak menggunakan cara tidak berkomentar apa-apa. Marilah kita perhatikan cerita Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu yang sejak umur sepuluh tahun dibawa ibunya kepada Rosulullah Shallahu’Alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun lamanya.ia radhiallahu ‘Anhu berkata,”suatu hari saya membantu Rosulullah Shallahu’Alaihi wa Sallam sampai saya berpendapat telah menyelesaikan pekerjaanku dan biasanya Rosulullah Shallahu’Alaihi wa Sallam qailulah ‘istirahat sebentar di siang hari’maka saya keluar menemukan anak-anak lainya sedang bermain dan saya menonton permainan mereka. Lalu datanglah Rosulullah Shallahu’Alaihi wa Sallam sambil mengucap salam kepada anak-anak yang sedang bermain, kemudian beliau memanggilku dan menyuruhku untuk suatu keperluan beliau.saya pergi menjalankan tugas beliau sedangkan sedangkan beliau duduk di tempat teduh samoai saya datang. Rosulullah shallahu’Alaihi wa Sallam tidak marah kepada Anas yang sedang menonton anak-anak bermain dan keluar rumah tanpa pamit karena Anas menyangka bahwa beliau sedang istirahat. Nabi Shallahu’Aalihi wa Sallam juga menghargai anak-anak kecil dengan mengucapkan salam kepada mereka. Orang tua dan pendidiki haruslah bersikap sabar terhadap anak-anak atau siswanya, terutama pada saat memberi nasihat. Imam Ibnul Qayyim radhiallahu ‘Anhu berkata.”perdaan antara nasihat dan kecaman adalah bahwa nasihat itu adalah perbuatan baik kepada orang-orang yang kamu nasihati dalam bentuk kasih sayang, rasa kasihan, cinta dan cemburu.nasihat itu semata-mata perbuatan baik yang didasari kasih sayang dan kelembutan dan dimaksudkan untuk mencari ridho Allah dan wajah-Nya kemudian sebagai kebaikan bagi makhluk-makhluknya. 4 Dia bersikap lemah lembut semaksimal mungkin dalam menjalankan nasihat tersebut dan sabar dalam menerima gangguan dan celaan dari orang-orang yang di nasihatinya dan menyikapinya seperti sikap seorang dokter yang ahli. Penuh kasih sayang terhadap pasiennya yang sedang menderita sakit komplikasi dan dalam keadaan setengah sadar. Dia sabar menghadapi kekurangajaran pasienya dan tanduk-tanduknya yang tidak tahu aturan. Dokter juga tetap bersikap lemah lembut dan merayunya denagn berbagai cara agar pasiennya mau meminum obat. Begitulah sikap orang pemberi nasihat. Ada seorang anak kecil berumur enam tahun ingin menggembirakan adiknya yang berumur dua tahun dengan memboncengnya naik sepeda. Si kakak duduk di depan dan si adik duduk di belakang, padahal ia belum bisa menjaga keseimbangan diri, sang Ayah yang melihat kejadian tersebut, tanpa pikir panjang langsung mengambil anaknya yang duduk di belakang.kemudian langsung memukul anaknya yang berumur enam tahun-yang belum mengerti bahwa tindakan tersebut membahayakan adiknya-. Anak yang dipukul menangis dan si ayah pun menyesal, mengapa dia harus memukul padahal cukup di jelaskan bahwa tindakan tersebut membahayakan adiknya. Termasuk ciri orang yang bertakwa adalah orng yang bisamenahan marah. Dalam praktiknya, bersikap lembut dan menahan emosi terhadap prilaku anak kecil, tidaklah mudah. Namun demikian, kita harus berusaha mengendalikan emosi dalam menghadapi anak karena: 1.Takut kepada Allah mengingat anak adalah amanat. 2.Menghadap riha Allah dan ganjarannya. 3.Agar kita dapat predikat sebagai orang yang baik sesuai kriteria yang disebutkan Rosulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam,”sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya…” 4.Agar anak kita tumbuh menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orangtua. Hendaklah kita mengambil pelajaran dari kisah bapak yang menyesali sikapnya, ketus dan sering marah kepada anaknya yang masih kecil, dan kemudian berusaha untuk memperbaiki dirinya. Berikut adalah penuturanya, “dengarlah, anakku: Ayah mengatakan hal ini di hadapanmu ketika kau sedang tertidur pulas kau letakkan tangan yang mungil di bawah pipimu, beberapa helai rambutmu yang pirang menempel di dahimu yang basah.Ayah diam-diam memasuki kamarmu. Beberapa saat yang lalu, ketika ayah membaca buku di kamar,tiba-tiba ayah di hantui rasa penyesalan yang mendalam, oleh karena itu, sekarang ayah datang, duduk di sampingmu penuh dengan dosa. Wahai anakku, selama ini tidak terpikirkan olehku bahwa ayah telah bersikap ketus dan bersikap keras terhadapmu. Ayah membentakmu sewaktu kau memakai pakaian ketika hendak sekolah karena kau hanya mencuci muka saja. Ayah dibuat kesal olehmu karena kau tidak membersihkan sepatumu Ayah berteriak marah-marah sewaktu kau terlantarkan mainanmu di lantai. Pada waktu sarapan ayah mendapatkanmu berbuat salah juga. Kau tumpahkan makananmu, kau bunyikan meja dengan sikumu, kau cela makanan.keju yang kau taruh di roti terlalu tebal. Dan sewaktu kau masih bermain-main sedangkan ayah sudah siap berangkat bekerja hendak ke stasiun kerta api,kau membalik sambil melambaikan tangan dan berseru,”selamat jalan ayah!” Aku balas dengan cemberut lalu kukatakan,”berdirilah dengan tegak!” Di sore hari, terjadi lagi ketegangan. Sewaktu ayah berjalan pulang menuju rumah, ayah melihat kau sedang bermain kelereng sambil berlutut. Kulihat kaos kakimu berlubang. Kau ku permalukan di depan teman-temanmu dengan mendorongmu berjalan pulang di depanku.”Kaos kaki itu mahal dan andainya kau membelinya dengan uangmu sendiri, kau pasti akan berhati-hati!”bayangkan wahai anakku, apakah itu tindakan ayah yang baik? 5 Ingatkah kau-setelah itu -waktu ayah membaca di kamar kerja, lalu kau melongok dengan wajah yang murung, kau bolak-balik melongok ke kamar membuat ayah terganggu dan tidak konsentrasi dalam membaca sehingga aku membentakmu,”Mau apa?”kau menjawab,”Tidak mau apa-apa.”Tetapi kau datang menghampiriku dan merangkulku kuat-kuat kemudian menciumku. Kedua lenganmu yang mungil merangkulku dengan kuat penuh kecintaan dari lubuk hati yang paling dalam, cinta yang tidak pernah layu dari seorang aak kepada ayahnya,meskipun aku memperlakukan ku dengan keras. Setelah itu kau berlalri ke atas. Baik, anakku, tidak lama sesudah itu, bukuku terjatuh dari tanganku dan tiba-tiba ayah diliputi perasaan takut dan jijik terhadap diriku sendiri. Apa hasil nya dari kebiasaan burukku itu? Kebiasaan mencari cari kesalahan, bersikap keras, inilah hadiah dari seoarang ayah kepada anak yang masih kecil sepertimu? Tindakanku kasarku bukan karena aku tidak mencintaimu, melainkan ayah menuntut terlalu banyak darimu.Ayah menyungkurkan dirimu dengan ukuran orang dewasa. Sungguh banyak sikap-sikap terpuji dalam kepribadianmu. Hatimu yang kecil bagaikan cahaya fajar yang menyinari cakrawala yang luas. Ini nampak ketika kau menghampiriku secara spontan dan menciumku sebelum tidur. Yang ayah pikir malam ini hanyalah dirimu. Ayah berada di sisimu dalam kegelapan, duduk berlutut, malu pada diriku sendiri! Ini sedikit upaya untuk menghapus kesalahan, ayah tahu kau tidak akan mengerti semua ini jika ku katakan kepadamu.Tetapi besok, aku akan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya, aku akan bersahabat denganmu, menderita bila kau menderita, sedih jika kau sedih dan ikut bergembira jika kau bergebira. Lidahku akan kutahan,kalau ada perbuatan yang membuatku kesal, ayah akan mengucapkan suatu kata yang akan kujadikan sebagai moto,’maklum, ia masih anak-anak.’ Ayah takut memperlkukanmu sebagai orang dewasa sebagaimana sikapmu selama ini kepadamu.Tapi,ketika aku memandangimu sekarangini, wahai anakku,tidur meringkuk di kasurmu, aku memandangmu, kau adalah anak kecil. Sepertinya baru kemarin kau di gendong ibumu, kepalamu menempel di bahunya. Ayah telah menuntutmu terlalu banyak, ayah telah menuntutmu terlalu banyak. Kita sebagai muslim wajib menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak kita. Sungguh prihatin dan mengenaskan jika kita mendengar anak-anak kecildi perlakukan keras dan kasar. Mudah-mudahan kita mau berpikir, merenung, menyesali dan memperbaikinya selagi masihn diberi umur panjang, sebelum datangnya ajal

h1

Hello world!

Maret 5, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!